Neraca Perdagangan Surplus Rp 10 T
RADAR PALEMBANG, SURPLUS-Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Palembang, neraca perdagangan di Sumsel selama Januari-April menguat tajam. Sebab, pada periode tersebut neraca perdagangan ekspor-impor surplus hingga Rp 10 triliun.
Sementara stabilitas ekonomi diprediksi akan sedikit membaik dengan adanya kabar inflasi Juli yang tercatat hanya 1,32 persen dibawah nasional yang mencapai 1,37 persen.
Menurut Kepala BPS Palembang Haslani Haris didampingi Kabid Statistik Distribusi Nazaruddin, menurut tahun kalender (Januari-Juli) 2008 laju inflasi mencapai 9,45 persen. Ini ditunjukkan dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 114,15 persen terhadap IHK Desember 2007 lalu tercatat 104,29 menggambarkan bahwa laju inflasi Juli 2008 lebih tinggi ketimbang Juli 2007 dengan laju Year on Year 14,48 persen. “Namun surplus neraca perdagangan memberikan kabar positif bagi Sumsel,’’ ujarnya.
Meskipun perkembangan ekspor cukup fluktuatif dari bulan ke bulan, jelas Nazaruddin, tapi pada periode Januari-April ekspor Sumsel tercatat mencapai USD 1.162.428.166 atau setara Rp 10,5 trilliun dengan kurs dolar saat ini Rp 9.118 atau naik dari posisi tahun 2007 sekitar 49,84 persen yang hanya mencatat angka USD 775.764.315.
Sementara import Januari-Juli 2008 tercatat USD 49.847.377 atau setara Rp 454,5 miliar. Atau turun sebesar 2,09 persen dari posisi tahun 2007 hanya mencatat angka US $ 50.909.962.
Jumlah ini, menurut Nazaruddin, akibat turunnya golongan impor mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar USD 3,10 juta dari USD 5,52 juta menjadi USD 2,42 juta. Sementara, enam golongan lainya tetapa mengalami peningkatan, paling besar peningkatanya adalah golongan hasil penggilingan sebesar USD1,76 juta, namun secara keseluruhan golongan utama impor non migas Sumsel mulai karet , kayu, udang, CPO, the, kopi, pulp mengalami menurunan.
“Dengan nilai Januari-April 2008 sebesar USD 44,16 juta sekitar 92,32 persen dibandingkan dengan nilai impor periode sama tahun 2007 mencapai USD44,94 juta,’’ tegas Nazaruddin.
Untuk jumlah negara import, masih menurut Nazaruddin, paling tinggi masih di duduki Cina menyumbnang hingga USD 11.193.487, lalu Malaysia menyumbang USD 9.286.663. ketiga Singapura menyumbang USD 4,215.610, baru menyusul wilayah Eropa Jerman, Inggris, Finlandia. Denmark, lalu negarautama lainya AS, India, jepang, Ausdtralian dan Thailand.
Sedangkan untuk eksport, tertinggi masih ditempati sektor non migas menyumbang USD 959.954.049 atau menempati 82,58 persen, sedangkan migas hanya mencapai USD 202.474.117 atau menempati posisi 17,42 persen.
Dengan sumbangan ekspor terbesar ke neraga Cina terbesar USD 258.460.166, kedua ditemparti oleh Singapura USD 205.678.080, dan ketiganya ditempati AS US 188.754.264. Ketiga negara tersebut menyumbang porsi devisa hingga 56,16 persen dari total devisa masuk. Baru disusul begara lain jepang, jerman, Malaysia, India, kanada, Prnacis, Brazil.
“Untuk posisi pemicu inflasi Juli ini, tertinggi disumbang oleh BBM rumah tangga seperti gas elpiji. Selain perubahan harga naik hingga 21,5 persen, juga dipicu oleh distribusi dan stok,’’ tandas Nazaruddin.
Posisi kedua penyumbang inflasi telur ayam ras, mengalami kenaikan harga 16,2 persen. Cabe merah mengalami perubahan harga 14 persen, gading ayam yang madih terus naik harganya hingga 4,6 persen. Renbang naik drastis 20 persen. Juga kebutuhan dasar bangunan, seperti pasir mulai naik membumbung 31 persen, batubata naik 5 persen. Lainya dipengaruhi harga obat naik 8 persen, lalu emas perhiasan naik 0,7 persen dan harga petai mulai banyak diminati saat musim begini, mengalami perubahan harga 50 persen.
“Cukup fluktuatifnya kondisi inflasi Palembang ini, masih disebabkan oleh belum stabilnya indeks kemampuan beli masyarakat. Juga sifat masyarakat masih banyak uji coba barang terbaik, dengan adanya perubahan pola konsumsi dengan terus merangkaknya harga di pasaran,’’ pungkas Nazarudin. (ayu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar